Senin, 15 September 2008

Asuhan Keperawatan Anak dengan Diare

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
DENGAN MASALAH DIARE

A.DEFINISI
Diare (mencret) adalah : Defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja ( Suharyono,1999 : 51 )
Gasteroenteritis adalah : Kehilangan caioran dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi satu kali atau lebih buang air besar dengan perubahan bentuk encer atau cair ( Suriadi,2001 : 83 )
Gastroenteritis adalah : Kondisi gangguan pada gaster yang ditandai dengan adanya muntah dan diare yang disebabkan oleh infeksi, alergi, tidak toleran terhadap makanan tertentu atau mencerna toksin (Tucker,1998)
Berak encer (biasanya 4 x atau lebih dalam sehari), kadang-kadang disertai :
Muntah
Badan lesu atau lemah
Panas
Tidak nafsu makan
Darah dan lendir dalam kotoran

B.PENYEBAB
Diare dapat disebabkan oleh :
1.Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit
2.Alergi terhadap makanan atau obat-obatan tertentu
3.Infeksi oleh bakteri atau virus yang menyertai penyakit lain seperti :
Campak
Infeksi telinga
Infeksi tenggorokan
Malaria, dll
Penularan disebabkan oleh :
Pemakaian botol susu yang tidak bersih
Menggunakan sumber air yang tercemar
Buang air besar di sembarang tempat
Pencemaran makanan oleh serangga (lalat, kecoa, dll) atau oleh tangan yang kotor.
1. Diare (mencret ) terutama pada balita sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan kematian karena kekurangan cairan.
2.Kematian akibat diare (mencret) dapat dicegah:
Sebagian besar diare akut (diare mendadak) pada anak dapat disembuhkan hanya dengan pemberian cairan dan meneruskan pembarian makanan saja.
3.Pada anak yang mengalami diare tanpa dehidrasi (kekurangan cairan).
Tanda-tandanya:
Berak cair 1-2 kali sehari
Muntah tidak ada
Masih mau makan
Masih mau bermain
Haus tidak ada
Tindakan:
Untuk mencegah dehidrasi, beri anak minum lebih banyak dari biasanya
ASI (Air susu ibu) diteruskan
Makanan diberikan seperti biasanya
Bila keadaan anak bertambah berat, segera bawa ke puskesmas

Tindakan:
Beri oralit
ASI (Air susu ibu) diteruskan
Teruskan pemberian makanan
Sebaiknya yang lunak, mudah dicerna dan tidak merangsang
Bila tidak ada perubahan segera bawa kembali ke Puskesmas terdekat




C.PATOFISIOLOGI
Ada tiga mekanisme yang menyebabkan timbulnya diare yaitu :
1.Gangguan osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat-zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran cairan kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.
2.Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu misalnya toksin pada dinding usus akan terjadi penigkatan sekresi air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat penigkatan isi rongga usus.
3.Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan sehingga timbul diare. Selain itu diare juga dapat menyebabkan output berlebih dan absorpsi yang kurang, sehingga timbul gagguan nutrisi defekasi yang sering menyebabkan kulit sekitar anus kemerahan sehingga mengganggu integritas kulit.
Transport aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit kedalam usus halus sel mukosa intestinal mengalami iritasi dan meningkatnya sekresi cairan dan elektrolit. Peradangan akan menurunken kemampuan intestinal untuk mengabsorbsi cairan dan elektrolit serta bahan makanan. Meningkatnya motilitas dan cepatntya pengososngan pada intestinal merupakan akibat dari gangguan dan sekresi cairan dan elekrtrolit yang berlebihan. Cairan sodium, potasium dan bikarbonat berpindah dari rongga ekstra seluler kedalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi, kekurangan elektrolit dapat terjadi asidosis metabolik. ( Suriadi,2001 : 83 )

D.MANIFESTASI KLINIS
Gejala awalnya adalah anak menjadi cengeng dan gelisah suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian muncul diare kemungkinan mengandung darah atau lendir, warna tinja berubah menjdi kehijauan karena bercampur empedu, anus dan sekiranya menjadi lecet. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah dehidrasi diare bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah dehidrasi. Berat badab menurun pada bayi, ubun-ubun besar dan cekung tonus dan turgor otot kulit berkuarang, selaput lendir mulut dan bibir menjadi kering.(Mansjoer,2000 : 470).
Gejala klinis sesuai dengan tingkat dehidrasi adalah sebagai berikut :
a.Dehidrasi ringan
Kesaadaran komposmentis, nadi kurang dari 120/menit, pernapasan biasa, ubun-ubun besar aagak cekung, mata agak cekung, turgor dan tonus biasa, mulut kering.
Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi ringan/sedang
Tanda-tandanya:
1. Berak cair 4-9 kali sehari
2.Kadang muntah 1-2 kali sehari
3.Kadang panas
4.Haus
5.Tidak mau makan
6.Badan lesu, lemas

b.Dehidrasi sedang
Kesadaran gelisah, nadi 120 – 140 kali/ menit, pernapasan agak cepat, ubun-ubun besar cekung. Mata tampak cekung, turgor dan tonus agak kurang, mulut kering.
c.Dehidrasi berat
Kesadaran apatis sampai koma, nadi lebih dari 140 kali/menit, pernapasan kusmaul, ubun-ubun besar cekung sekali, turgor dan tonus kurang sekali, mulut kering dan sianosis. ( Suharyono, 1999 : 5960 )
Pada anak yang mengalami diare dengan dehidrasi berat
Tanda-tandanya:
Berak cair terus-menerus
Muntah terus-menerus
Haus sekali
Mata cekung
Bibir kering dan biru
Tangan dan kaki dingin
Sangat lemah
Tidak mau makan
Tidak mau bermain
Tidak kencing 6 jam atau lebih
Kadang-kadang dengan kejang atau panas tinggi

4.DIAGNOSA KEPERAWATAN
Resti terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan dan cairan
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah
Resti terhadap gangguana integritas kulit berhubungan dengan seringnya defekasi dan iritasi pada daerah anus
resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai kebutuhan perawatan dan prosedur yang diikuti jika diare berulang.

5.INTERVENSI DAN RASIONALISASI
Resti terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan dan cairan
Tujuan: Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal, memperlihatkan tidak adanya tanda – tanda dan gejala dehidrasi.
Kriteria hasil: Mempertahankan atau menunjukkan perubahan keseimbangan cairan (dibuktikan oleh haluaran urine adekuat), membran mektosa lembab dan turgor kulit elastis.
Intervensi:
Kaji minuman yang disukai dan tidak disukai
Berikan cairan kesukaan dalam batas diit dan dalam bentuk yang menarik
Berikan dengan tempat yang tidak biasa (cangkir, warna, sedotan)
Ukur jumlah dan tipe masukan cairan (ukur haluaran urine dengan akurat)
Berikan sebuah permainan atau aktivitas (suruh anak minum jika telah giliran)
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain.

Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah
Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil:
Masukan kalori adekuat untuk meningkatkan atau mempertahankan berat badan yang tepat
Menunjukkan peningkatan berat badan yang mencapai rentang diharapkan
Intervensi:
Timbang berat badan anak setiap hari
Monitor intake dan output
Setelah rehidrasi berikan minuman oral dengan sering dan makanan yang sesuai dengan diit dan usia dan atau berat badan anak
Berikan makanan dalam porsi sedikit tapi sering
Lakukan kebersihan mulut setiap habis makan

Resti terhadap gangguan integritas kulit berhubungan dengan seringnya defekasi dan iritasi pada daerah anus
Tujuan: Tidak terjadi integritas kulit
Kriteria hasil: Mengidentifikasi dan menunjukkan perilaku untuk mempertahankan kulit halus, elastis dan utuh
Intervensi:
Jaga daerah anal dan bokong bersih serta kering
Cuci kulit dengan krim/ sabun setiap defekasi
Berikan daerah bokong terbuka dengan udara luar sebanyak mungkin
Berikan salep pelindung setelah mengganti popok
Bila gatal tidak tertahankan kukur dengan ibu jari
Memberi sarung tangan bila tidur
Memotong kuku
Kerjasama dengan tim kesehatan lain untuk pemberian cairan atau makanan parenteral

Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
Tujuan: Resiko tinggi terhadap infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil:
Ajarkan tanda- tanda infeksi pada keluarga (peningkatan kemerahan, atau bengkak yang tidak biasa)
Ajarkan cara mencuci tangan yang baik pada orang luar dan pengunjung
Segera bersihkan dan angkat bekas buang air besar dan tempatkan pada tempat yang khusus
Gunakan standar pencegahan uiversal
Tempatkan pada ruangan yang khusus
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi mengenai kebutuhan perawatan dan prosedur yang diikuti jika diare berulang.
Tujuan : Meningkatkan pengetahuan keluarga pasien.
Kriteria hasil:
Menyatakan kesadaran dan merencanakan perubahan pola hidup
Menyatakan tanggung jawab untuk belajar sendiri
Mencari sumber untuk membantu membuat identifikasi perubahan

Intervensi :
Jelaskan perlunya isolasi untuk mencegah tertularnya penyakit lain
Ajarkan teknik mencuci tangan yang baik sebelum dan sesudah mengganti popok.
Ajarkan perawatan daerah bokong
Jelaskan perlunya gejala kambuh pada dokter
Intruksikan orangtua untuk melakukan pencegahan dengan (memberikan ASI, cegah pemberian formula yang mengandung laktosa selam 1 – 2 hari berikan secara teratur elektrolit pada anak)


6.PENATALAKSANAAN
CARA MENCEGAH PENYAKIT DIARE:
Penyakit diare dapat dicegah melalui:
1.Pemberian ASI (Air Susu Ibu)
2.Pemberian makanan pendamping ASI yang bersih dan bergizi setelah bayi berumur 4 bulan.
3.Medik :
a.Pengobatan medikamentosa
Prinsip pengobatan diberikan preparat Hcl terutam apad penderita kelainan intestinal.Untuk mengurangi spame kolon , dapat dianjurkan mepenzolate dromid
b.Pemberian cairan
c.Pemberian diit


TAKARAN PEMBERIAN ORALIT
Oralit tidak menghentikkan diare tapi hanya menggantikan cairan tubuh yang hilang bersama tinja.
Jika tidak terjadi dehidrasi setiap kali buang air besar (BAB) diberi oralit dengan aturan sebagai berikut:
Umur <1 tahun : ½ gelas
1-4 tahun : 1 gelas
5-12 tahun : 1 ½ gelas
dewasa : 2 gelas
Jika terjadi dehidrasi ringan sampai berat: 3 jam pertama beri oralit dengan takaran sebagai berikut:
Umur < 1 tahun : 1 ½ gelas
1-4 tahun : 3 gelas
5-12 tahun : 6 gelas
dewasa : 12 gelas
selanjutnya untuk mengtasi dehidrasi, setiap BAB diberi oralit sbb:
Umur < 1 tahun : ½ gelas
1-4 tahun : 1 gelas
5-12 tahun : 1 ½ gelas
dewasa : 2 gelas
Jika di rumah tidak ada oralit:
Oralit dapat dibuat sendiri dengan mencampur 1 ½ sendok makan gula dan ½ sendok the garam dalam 1 gelas air putih. Untuk hasil yang lebih baik bisa ditambah beras 1 sendok yang diserbuk (ditumbuk).

TEMPAT ORALIT DAPAT DIPEROLEH
Oralit dapat diperoleh di Puskesmas, Posyandu, Apotik, toko obat.

Tidak ada komentar: